Setiap kali dinyatakan betapa kaya Indonesia dalam keanekaragaman hayati. Angka demi angka telah disebutkan untuk berbagai kelompok biota. Angka-angka ini juga disebutkan terhadap biota di seluruh dunia, dan untuk bagian-bagian bumi, negara, serta kawasan-kawasan yang lebih rinci. Pernyataan-pernyataan tersebut tentunya didasarkan suatu pertimbangan atau perhitungan. Perhitungan dan pertimbangan inilah yang perlu disimak, agar dapat diyakini apakah pernyataan-pernyataan yang diberikan mengenai kekayaan hayati ini telah menggunakan dasar yang jelas dan nyata. Perhitungan ini telah banyak dilakukan pada taraf spesies, dan juga terhadap taraf-taraf lainnya, termasuk keanekaragaman pada taraf sumber daya genetik atau plasma nutfah). Walaupun demikian, masih banyak pihak yang belum mengetahui cara, yaitu metode dan mekanisme, yang digunakan dalam penghitungan tersebut.Adanya metode penghitungan keanekaragaman hayati perlu diketahui oleh masyarakat, agar masyarakat dapat menentukan sikap apakah angka-angka yang dikemukakan dalam pernyataan mengenai kekayaan hayati itu benar dan berdasar. Sikap ini penting artinya dalam pengelolaan keanekaragaman hayati yang bersangkutan, sehingga dalam pengelolaan ini dapat dicapai hasil yang efektif. Ungkapan akan kekayaan yang didasarkan kebenaran yang diperoleh dari penghitungan dan pertimbangan yang benar akan menentukan kebijakan baik pelestarian maupun pemanfaatan secara berkelanjutan komponen-komponen keanekaragaman hayati dalam berbagai taraf. Dengan kebijakan yang tepat akan dapat dikembangkan suatu perencanaan dan kegiatan pelaksanaannya dengan tepat pulaMengetahui penghitungan derajat keanekaragaman hayati untuk semua taraf memang diperlukan, agar masyarakat dapat diajak menentukan pengelolaan keanekaragaman hayati, termasuk pada taraf plasma nutfah dan taraf lainnya, secara langsung. Pengetahuan dan kelangsungan partisipasi masyarakat dalam penghitungan berapa kekayaan hayati ini yang dimiliki suatu negara, khususnya Indonesia, dan kawasan-kawasan di dalamnya, perlu dimliki masyarakat, agar selanjutnya masyarakat dapat menghargai kandungan keanekaragaman hayati pada suatu kawasan, terutama yang ada di sekitarnya, bahkan untuk seluruh negeri.Tentu saja sikap masyarakat seperti ini mempunyai arti yang penting, karena sikap ini dapat dibawa untuk memberhasilkan pengelolaan keanekaragaman hayati. Selain itu, bila masyarakat dapat mengetahui metode yang digunakan dalam menentukan derajat keanekaragaman hayati, masyarakat akan dapat menghargai pentingnya metode dan mekanisme yang dimaksud ini.
Begitu pentingnya cara menentukan derajat keanekaragaman hayati untuk keperluan pengelolaannya, masyarakat perlu juga mengetahui apa bentuk cara yang digunakan ini. Secara umum telah diungkapkan dan diulas pentingnya dan kegunaan taksonomi sebagai cara yang dimaksud. Agar masyarakat dapat memberikan apresiasinya terhada taksonomi sebagai metode dalam penghitungan derajat keanekaragaman hayati, beberapa segi mengenai taksonomi harus diberitahukan, yaitu di antaranya mengenai asas dan fungsi taksonomi, dalam bentuk manfaat yang nyata dari kaidahnya yang sesungguhnya. Bila kaidah taksonomi telah diketahui, maka cara memanfaatkan taksonomi, khususnya untuk pengelolaan – pelestarian dan pamanfaatan secara berkelanjutan – keanekaragaman hayati dapat dirumuskan dan diterapkan.MENELAAH KEANEKARAGAMAN HAYATI UNTUK BERMITRAAN DENGAN TAKSONOMI
Dalam membahas manfaat taksonomi terhadap keanekaragaman hayati, harus dimengerti secara jelas makna dan cakupan baik keanekaragaman hayati maupun taksonomi. Keanekaragaman hayati merupakan obyek yang akan mendapat perlakuan, sedangkan taksonomi merupakan subyek yang akan memberikan perlakuan. Keanekaragaman hayati tanpa perlakuan dari taksonomi akan tidak dapat dikelola dengan baik, konservasinya kurang terarah dan tidak menyeluruh, sedangkan pemanfaatannya akan cenderung dilakukan secara boros. Sebaliknya, taksonomi bila tidak dimanfaatkan untuk memberikan perlakuan terhadap keanekaragaman hayati akan menjadi disiplin ilmu yang mubazir. Pemaduannya yang serasi akan memberikan hasil optimum baik dalam pengelolaan keanekaragaman hayati maupun dalam memberdayakan kehadiran taksonomi.PEMAHAMAN MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI
Pemahaman terhadap makna keaneakaragaman hayati telah secara resmi diupayakan dengan membuat rumusan definisinya dalam Convention on Biological Diversity. Akan tetapi untuk memahaminya secara menyeluruh, perlu suatu uraian, sehingga keseluruhan maknanya dapat dipahami dan manfaatnya secara totalitas dapat disadari. Pendapat ini dikemukakan karena rumusan definisi keanekaragaman hayati tersebut tidak menunjukkan cakupan segi-segi yang perlu dilestarikan dan yang mungkin dapat dimanfaatkan. Akibat keterbatasan definisi dan pengertiannya ialah bahwa perlakuan masyarakat terhadap keanekaragaman hayati masih belum menjamin pelestariannya dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Keadaan ini mencakup pula kesulitan bagi pengambil kebijakan dan penyusun strategi dalam menentukan kebijakan, strategi, serta rancang tindaknya. Tidaklah mengherankan bila masih banyak kegiatan pengelolaan (melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan) keanekaragaman hayati yang tidak mengena sasaran.Sampai kini, pada umumnya masyarakat – pada hampir semua lapisan – melihat keanekaragaman hayati hanya sebatas bentuk luar. Keterbatasan ini merupakan dampak dari keterbatasan pemahaman akan makna keanekaragaman hayati. Bila seseorang melihat komponen-komponen keanekaragaman hayati, yang akan dilihat adalah bentuk dan rupa komponen ini, sebatas pada penglihatan. Melihat harimau, macan kumbang, harimau dahan, kelompok pohon meranti, kelompok durian, kelompok mangga, dan lain-lain biota, yang terpikirkan hanya segi-segi yang sangat terbatas. Untuk kelompok-kelompok liar, tidak banyak segi yang terpikirkan, kecuali apa yang dilihat dan pernah dialami. Selain itu, misalnya pemikiran mengenai hubungan antara satu unit keanekaragaman hayati dan lainnya serta dampak selanjutnya dari adanya hubungan ini, baik bagi komponen-komponen yang bersangkutan maupun bagi lingkungan atau bagian-bagian lain dalam habitat, tidak pernah terbayangkan. Keterbatasan ini tidak saja mengenai komponen-komponen liar, yang ada di alam, tetapi juga yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan sehari-hari.Bila diambil contoh mangga dan kerabatnya, kebembem, kemang, pakel, dan kweni, yang lazim dipahami mengenai kelompok ini ialah bentuk, rasa, dan kegunaannya sebagai bahan yang dapat dimakan. Selebihnya tidak pernah terpikirkan. Tentunya masih banyak segi lain keanekaragaman yang dapat ditelusuri dari anggota-anggota kelompok ini, yang kemudian memerlukan pengelolaannya yang mengena. Hanya dengan pemahaman yang terbatas tersebut, penanganan dalam pengelolaannya, yaitu pelestarian dan pemanfaatannya secara berkelanjutan, juga akan hanya terbatas tujuan yang terbatas pula. Upaya untuk tujuan lain tidak pernah terpikirkan karena keanekaragaman yang dapat dibayangkan hanya sebatas yang terpikirkan. Keterbatasan ini berlaku pula untuk komoditi lain, bukan saja tanaman tetapi juga hewan. Akan lebih luas lagi upaya pemahaman mengenai keanekaragaman bila mencapai taraf yang lebih bawah, yaitu taraf keanekaragaman sumber daya genetik atau plasma nutfah. Taraf ini akan mempunyai lebih banyak segi keanekaragaman. Di sini pun pandangan terhadap keanekaragaman masih terbatas seperti pemahaman tradisional yang telah berlangsung sepanjang kebudayaan manusia. Hal yang sama juga berlaku bagi hewan. Pertanyaannya ialah mengapa terjadi keterbatasan ini?
Pengungkapan keanekaragaman pada makhluk harus mencakup segi-segi lain, disamping tampak luarnya. Komponen keanekaragaman hayati adalah entitas hidup, yang harus menyelenggarakan hidupnya dengan peri laku dan kegiatan-kegiatan secara menyeluruh. Semua segi ini juga mempunyai keanekaragamannya. Komponen biota harus makan, berbiak, bergerak, memencar, mempertahankan diri dan menyerang. Semua segi kegiatan ini dilaksanakan menurut kemampuan dan cara masing-masing. Karena biota beraneka ragam, jelaslah bahwa semua segi kegiatan tersebut juga beraneka ragam. Keanekargaman inilah yang perlu dipikirkan secara jelas agar dalam pengelolaannya segi-segi ini juga tercakup. Dengan uraian ini diharapkan makin dapat disadari bahwa keanekaragaman bukanlah semata-mata pada tampak luarnya, tetapi semua sifat dan kemampuan yang dimiliki makhluk hidup.PEMAHAMAN TERHADAP TAKSONOMIDimana kemitraan taksonomi dalam mengelola keanekaragaman hayati? Akan tiba saatnya bila harus dijawab pertanyaan mengenai cara menentukan kekayaan alam hayati Indonesia. Berkali-kali terucapkan pernyataan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dalam keanekaragaman hayati. Pertanyaan yang harus dijawab ialah bagaimana diketahui bahwa Indonesia memang benar-benar negara yang kaya akan keanekaragaman hayati? Sudah sering diungkapkan berbagai angka mengenai jumlah kelompok-kelompok biota yang ada di Indonesia. Akan tetapi, kebenaran angka ini masih belum dapat dipastikan. Pada taraf dunia pun angka keanekaragaman kelompok-kelompok fauna dan flora, termasuk kelompok rendah dan jasad renik, masih belum mantap. Kisaran dari 2 juta sampai 100 juta telah dikemukakan dalam berbagai media pembeberan keanekaragaman hayati dunia. Kisaran yang sangat lebar ini menandakan belum diterapkannya metode dan mekanisme penghitungan derajat keanekaragaman hayati secara benar, sehingga belum ada gambaran yang sebenaranya mengenai derajat keanekaragaman hayati dunia. Hal ini tidak mengecualikan Indonesia.
Taksonomi merupakan disiplin ilmu yang dengan mantap akan dapat menghitung satuan keanekaragaman hayati, bukan saja pada segi yang terlihat, tetapi juga segi-segi lain yang meliputi seluruh kandungan makhluk hidup untuk menyelenggarakan hidupnya. Sifat dan kemampuan makhluk akan menjadi sasaran pelaksanaan taksonomi. Apa sebetulnya taksonomi itu? Inilah yang harus dipahami dulu sebelum dapat dilakukan penerapan taksonomi untuk menelaah keanekaragaman hayati. Pemanfaatan taksonomi memerlukan persiapan. Persiapan ini diperlukan, khususnya di Indonesia karena taksonomi telah disalahartikan dan disalahajarkan. Bukanlah taksonomi yang diajarkan dan dipahami, melainkan sekadar menghafalkan daftar susunan klasifikasi, keharusan menghafal nama Latin, dan keharusan menghafal kedudukan takson dalam hierarki klasifikasinya. “Taksonomi” seperti ini tidak akan mampu bermitra dengan dan mampu menelaah kandungan keanekaragaman hayati. Agar taksonomi dapat berfungsi dengan semestinya, sehingga dapat benar-benar bermitraan dengan keanekaragaman hayati untuk tujuan penelaahaannya, telah sering uraian berikut ini diungkapkan.
Taksonomi diselenggarakan berdasarkan tiga pedoman :
1. Memahami asas – penting, karena inilah langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyelenggarakan taksonomi.
2. Menyimak perkembangan – sangat perlu karena akan menyesuaikan kinerja taksonomi dan mendinamiskannya.
3. Mewujudkan fungsi dan memainkan peran – menunjukkan taksonomi ada gunanya.
Memahami asas tidak dapat ditinggalkan karena asas merupakan pijakan yang akan dijadikan landasan dalam menyelenggarakan taksonomi. Dengan dasar pijakan ini taksonomi akan mampu mengungkapkan informasi yang terkandung di dalam makhluk hidup. Asas taksonomi yang dijadikan landasan berupa empat komponen yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Oleh karena itu, keempatnya tidak dapat dipisahkan dan harus diterapkan secara terpadu. Keempat asas ini terurai sebagai berikut :
1. spesies merupakan unit dasar dalam penyelenggaraan taksonomi; dengan unit dasar ini keanekaragaman hayati dapat ditakar dan diukur, dalam kuantita dan dalam kualita, dengan hitungan jumlah atau satuan komponen, termasuk pengungkapan sifat dan kemampuan masing-masing;
2. spesies merupakan unit yang hidup; harus disadari bahwa spesies tidak statis, tetapi dapat berubah dalam konteks kedinamisan, yaitu menyesuaikan diri, berkembang, dan menghasilkan rintisan pembentukan entitas baru; kedinamisan ini melibatkan seluruh spesies, artinya perubahan dan perkembangan yang terjadi tidak dalam keseragaman;
3. terdapat keanekaragaman di dalam spesies; individu-individu di dalam spesies tidak dalam keseragaman, baik pada dimensi ruangan maupun dalam dimensi waktu;
4. atribut di dalam spesies merupakan aset spesies dalam proses menuju kontinuum dan diskontinuum; keanekaragaman di dalam spesies merupakan cerminan keanekaragaman totalitas atribut di dalam spesies; dengan keanekaragaman totalitas atribut ini dimungkinkan terjadinya perkembangan secara dinamis, secara horisontal dan vertikal; secara horisontal terbentuklah diskontinuum, termanifestasi dalam perbedaan satu spesies dengan spesies yang lain; secara vertikal terjalin hubungan kekerabatan, atau fenomena kontinuum, yang terwujud dalam susunan hierarki dalam klasifikasi.
Menyimak perkembangan taksonomi dapat menuntun penyelenggara taksonomi untuk mampu mempertimbangkan penyesuaian pelaksanaannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang mempunyai pengaruh dalam penerapan taksonomi dan pengembangan konsep. Pelaku taksonomi harus peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi dalam kurun waktunya dan sadar akan proyeksi perkembangan ke masa mendatang. Taksonomiwan harus mempunyai daya antisipasi, sesuai latar belakang pengetahuan yang dimilikinya dan kelompok makhluk hidup yang dikajinya.
Mewujudkan fungsi dan memainkan peran taksonomi merupakan pedoman ketiga dalam menyelenggarakan taksonomi ialah kemampuan untuk mewujudkan fungsi dan memainkan peran taksonomi. Kemampuan ini dapat ditempuh melalui beberapa langkah pemahaman terhadap keperluan pasar (pangsa).
1. Memahami keperluan pasar : sanggup menyediakan layanan yang diperlukan pasar (memenuhi permintaan) berupa informasi taksonomi. Taksonomiwan harus mempunyai kejelian dalam mengamati kebutuhan pengguna jasa taksonomi dalam mengelola (melestarikan dan memanfaatkan) keanekaragaman hayati.
2. Menyediakan informasi taksonomi : jasa pelayanan yang mengungkapkan sifat dan kemampuan unit/komponen keanekaragaman hayati. Taksonomiwan diharapkan menjadi produsen informasi untuk keperluan pengguna informasi taksonomi (termasuk pengambil kebijakan).
3. Penerimaan pengetahuan masyarakat lokal sebagai informasi taksonomi. Dengan memfungsikan dan memainkan peran taksonomi dapat dilakukan peresmian (formalisasi) unsur pengetahuan ini kedalam konteks informasi taksonomi dengan menerapkan 4 asas secara terpadu. Dalam konteks taksonomi, pengetahuan masyarakat lokal berguna dalam mengembangkan kriteria penentuan kelompok prioritas keanekaragaman hayati untuk keperluan kegiatan lebih lanjut, khususnya dalam valuasi komponen keanekaragaman hayati.
4. Dari segi lain, misalnya kepariwisataan pun informasi taksonomi juga diperlukan. Contoh yang dapat dikemukakan ialah informasi mengenai kekayaan alam, tapak yang menarik, di mana dan kapan munculnya, dalam bentuk apa, kandungan daya tarik yang dapat diharapkan, pada taraf spesies, ekosistem, plasma nutfah dsb. Ekowisata memerlukan informasi taksonomi, karena ekowisata tidak dibatasi oleh binatang-binatang besar, tetapi juga hal-hal yang menarik yang terkandung dalam spesies dan ekosistem, misalnya proses mekar bunga, penyerbukan, beraneka ragamnya tanaman padi, palawija dan sebagainya, pemangsaan dan pemarasitan, simbiosis dan bentuk kerja sama lainnya, serta hal-hal menarik lainnya yang dapat dinikmati para wisatawan.
Taksonomi merupakan disiplin ilmu yang dengan mantap akan dapat menghitung satuan keanekaragaman hayati, bukan saja pada segi yang terlihat, tetapi juga segi-segi lain yang meliputi seluruh kandungan makhluk hidup untuk menyelenggarakan hidupnya. Sifat dan kemampuan makhluk akan menjadi sasaran pelaksanaan taksonomi. Apa sebetulnya taksonomi itu? Inilah yang harus dipahami dulu sebelum dapat dilakukan penerapan taksonomi untuk menelaah keanekaragaman hayati. Pemanfaatan taksonomi memerlukan persiapan. Persiapan ini diperlukan, khususnya di Indonesia karena taksonomi telah disalahartikan dan disalahajarkan. Bukanlah taksonomi yang diajarkan dan dipahami, melainkan sekadar menghafalkan daftar susunan klasifikasi, keharusan menghafal nama Latin, dan keharusan menghafal kedudukan takson dalam hierarki klasifikasinya. “Taksonomi” seperti ini tidak akan mampu bermitra dengan dan mampu menelaah kandungan keanekaragaman hayati. Agar taksonomi dapat berfungsi dengan semestinya, sehingga dapat benar-benar bermitraan dengan keanekaragaman hayati untuk tujuan penelaahaannya, telah sering uraian berikut ini diungkapkan.
Taksonomi diselenggarakan berdasarkan tiga pedoman :
1. Memahami asas – penting, karena inilah langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyelenggarakan taksonomi.
2. Menyimak perkembangan – sangat perlu karena akan menyesuaikan kinerja taksonomi dan mendinamiskannya.
3. Mewujudkan fungsi dan memainkan peran – menunjukkan taksonomi ada gunanya.
Memahami asas tidak dapat ditinggalkan karena asas merupakan pijakan yang akan dijadikan landasan dalam menyelenggarakan taksonomi. Dengan dasar pijakan ini taksonomi akan mampu mengungkapkan informasi yang terkandung di dalam makhluk hidup. Asas taksonomi yang dijadikan landasan berupa empat komponen yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Oleh karena itu, keempatnya tidak dapat dipisahkan dan harus diterapkan secara terpadu. Keempat asas ini terurai sebagai berikut :
1. spesies merupakan unit dasar dalam penyelenggaraan taksonomi; dengan unit dasar ini keanekaragaman hayati dapat ditakar dan diukur, dalam kuantita dan dalam kualita, dengan hitungan jumlah atau satuan komponen, termasuk pengungkapan sifat dan kemampuan masing-masing;
2. spesies merupakan unit yang hidup; harus disadari bahwa spesies tidak statis, tetapi dapat berubah dalam konteks kedinamisan, yaitu menyesuaikan diri, berkembang, dan menghasilkan rintisan pembentukan entitas baru; kedinamisan ini melibatkan seluruh spesies, artinya perubahan dan perkembangan yang terjadi tidak dalam keseragaman;
3. terdapat keanekaragaman di dalam spesies; individu-individu di dalam spesies tidak dalam keseragaman, baik pada dimensi ruangan maupun dalam dimensi waktu;
4. atribut di dalam spesies merupakan aset spesies dalam proses menuju kontinuum dan diskontinuum; keanekaragaman di dalam spesies merupakan cerminan keanekaragaman totalitas atribut di dalam spesies; dengan keanekaragaman totalitas atribut ini dimungkinkan terjadinya perkembangan secara dinamis, secara horisontal dan vertikal; secara horisontal terbentuklah diskontinuum, termanifestasi dalam perbedaan satu spesies dengan spesies yang lain; secara vertikal terjalin hubungan kekerabatan, atau fenomena kontinuum, yang terwujud dalam susunan hierarki dalam klasifikasi.
Menyimak perkembangan taksonomi dapat menuntun penyelenggara taksonomi untuk mampu mempertimbangkan penyesuaian pelaksanaannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang mempunyai pengaruh dalam penerapan taksonomi dan pengembangan konsep. Pelaku taksonomi harus peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi dalam kurun waktunya dan sadar akan proyeksi perkembangan ke masa mendatang. Taksonomiwan harus mempunyai daya antisipasi, sesuai latar belakang pengetahuan yang dimilikinya dan kelompok makhluk hidup yang dikajinya.
Mewujudkan fungsi dan memainkan peran taksonomi merupakan pedoman ketiga dalam menyelenggarakan taksonomi ialah kemampuan untuk mewujudkan fungsi dan memainkan peran taksonomi. Kemampuan ini dapat ditempuh melalui beberapa langkah pemahaman terhadap keperluan pasar (pangsa).
1. Memahami keperluan pasar : sanggup menyediakan layanan yang diperlukan pasar (memenuhi permintaan) berupa informasi taksonomi. Taksonomiwan harus mempunyai kejelian dalam mengamati kebutuhan pengguna jasa taksonomi dalam mengelola (melestarikan dan memanfaatkan) keanekaragaman hayati.
2. Menyediakan informasi taksonomi : jasa pelayanan yang mengungkapkan sifat dan kemampuan unit/komponen keanekaragaman hayati. Taksonomiwan diharapkan menjadi produsen informasi untuk keperluan pengguna informasi taksonomi (termasuk pengambil kebijakan).
3. Penerimaan pengetahuan masyarakat lokal sebagai informasi taksonomi. Dengan memfungsikan dan memainkan peran taksonomi dapat dilakukan peresmian (formalisasi) unsur pengetahuan ini kedalam konteks informasi taksonomi dengan menerapkan 4 asas secara terpadu. Dalam konteks taksonomi, pengetahuan masyarakat lokal berguna dalam mengembangkan kriteria penentuan kelompok prioritas keanekaragaman hayati untuk keperluan kegiatan lebih lanjut, khususnya dalam valuasi komponen keanekaragaman hayati.
4. Dari segi lain, misalnya kepariwisataan pun informasi taksonomi juga diperlukan. Contoh yang dapat dikemukakan ialah informasi mengenai kekayaan alam, tapak yang menarik, di mana dan kapan munculnya, dalam bentuk apa, kandungan daya tarik yang dapat diharapkan, pada taraf spesies, ekosistem, plasma nutfah dsb. Ekowisata memerlukan informasi taksonomi, karena ekowisata tidak dibatasi oleh binatang-binatang besar, tetapi juga hal-hal yang menarik yang terkandung dalam spesies dan ekosistem, misalnya proses mekar bunga, penyerbukan, beraneka ragamnya tanaman padi, palawija dan sebagainya, pemangsaan dan pemarasitan, simbiosis dan bentuk kerja sama lainnya, serta hal-hal menarik lainnya yang dapat dinikmati para wisatawan.
BETAPA KAYA – TETAPI BERAPA KAYA INDONESIA DALAM PLASMA NUTFAH
Peran dan fungsi taksonomi sebagai perlakuan terhadap keanekaragaman hayati dapat dan perlu ditunjukkan secara gamblang. Hasilnya pun harus juga dibeberkan.
1. Dengan menerapkan asas taksonomi yang terdiri atas empat kompartemen yang saling berhubungan, akan dapat diungkapkan identitas suatu komponen. Taksonomi yang mendalami unit yang digarap dengan mengungkapkan temuannya dari pendalaman ini akan membeberkan secara lengkap (atau mendekati tingkatan lengkap) sifat dan kandungan kemampuan unit yang digarap. Indentifikasi spesies dan pertelaannya akan membuka isi unit yang digarap. Taksonomi juga meletakkan unit yang digarap pada kelompok kekerabatan yang tepat.Tindakan ini telah mencantumkan tambahan unit yang tercakup dalam suatu kelompok kekerabatan yang bersangkutan. Tindakan ini telah membuka peluang untuk meningkatkan keanekaragaman pemanfaatan suatu unit keanekaragaman hayati. Sisi lain yang dapat terungkap juga ialah persebaran unit ini dalam dimensi ruangan (spatial) dan dimensi waktu (temporal). Hal ini penting untuk diketahui, karena pengelolaan unit-unit yang bersangkutan akan memerlukan informasi mengenai persebaran ini. Penghitungan secara kuantitatif dan kualitatif pun dapat dilakukan. Hasil dari penghitungan ini akan mempunyai dampak yang luas, di antaranya untuk menentukan laju pemunahan, derajat endemisme, dan pemantauan terhadap masuknya spesies asing yang membahayakan.
2. Pemanfaatan dan pelestarian unit-unit keanekaragaman hayati dalam berbagai taraf, bawah-spesies, spesies, dan ekosistem dengan menggunakan jasa taksonomi akan terasa dalam penyadapan sifat dan kemampuan komponen keanekaragaman hayati untuk pemanfaatannya. Penerapan taksonomi dalam hal ini telah terbukti dalam berbagai bidang, misalnya pertanian untuk pemuliaan tanaman dan ternak dalam menghasilkan bibit atau varietas unggul, serta untuk mengendalikan hama dan penyakit; kesehatan dalam menentukan vektor penyakit dan agen penyakitnya sendiri; permukiman untuk menentukan lokasi yang tepat bagi kenyamanan dan keamanan penghuni atau pemukim; lingkungan untuk menentukan spesies atau unit indikator mengenai keadaan atau kualita lingkungan tertentu; dan sebagainya.
3. Dilihat dari segi peran taksonomi dalam mengklasifikasi makhluk, jarak antarspesies, antar takson yang lebih tinggi, dengan demikian hubungan horisontal dan hubungan vertikal dapat diidentifikasi. Pengetahuan tentang hubungan ini sangat penting dalam praktek, di antaranya dalam menentukan manfaat suatu unit dalam hal perannya sebagai unit pengganti unit yang telah dikenal sebelumnya. Fenomena ini dapat berlaku untuk semua taraf keanekaragaman hayati, mulai dari taraf bawah-spesies sampai taraf yang lebih tinggi. Contoh, misalnya bila di suatu kawasan terdapat komponen keanekaragaman hayati yang mempunyai khasiat untuk tujuan tertentu, padahal komponen tersebut tidak terdapat di kawasan lain, maka bila kawasan lain ini hendak mengembangkan pemanfaatan yang sama dengan yang dilakukan terhadap komponen yang telah dimanfaatkan tersebut, kerabat terdekatnya yang terdapat di kawasan lain ini dapat diteliti secara langsung. Ketentuan mengenai derajat kedekatan kekerabatannya hanya dapat ditentukan oleh taksonomi. Inilah pentingnya klasifikasi yang disusun dengan penyelenggaraan taksonomi.
4. Taraf lebih tinggi daripada spesies ialah ekosistem. Taksonomi yang langkah pertamanya ialah identifikasi spesies, akan menentukan pula identitas ekosistem. Kandungan dalam ekosistem yang berwujud spesies akan menentukan kinerja ekosistem. Fungsi, keefektifan,, dan kestabilan ekosistem tergantung pada keberadaan spesies. Secara langsung, dengan demikian, arah dan keberhasilan pengelolaan ekosistem ditentukan pula oleh penerapan taksonomi. Peran taksonomi dalam hal ini juga berkait dengan persebaran ekosistem
Peran taksonomi seperti yang dianalisis di atas itu berpotensi dalam menentukan berapa derajat keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia. Bila taksonomi diterapkan secara konsekuen terhadap keanekaragaman hayati, untuk setiap kelompok yang digarap akan dapat ditunjukkan kandungannya dengan lengkap. Taksonomi dengan meneraplan asas dan tahap-tahap pelaksanaannya, mulai dari identifikasi, pendalaman mengenai kandungan unit yang diidentifikasi, pertelaannya secara lengkap, sampai penyebaran informasi mengenai unit yang digarap ini, pastilah pemanfaatannya, dan sekaligus pelestariannya dapat dirancang dengan hasil yang maksimal. Dengan penggarapan seperti ini, akan dapat diungkapkan betapa kayanya negeri kita dengan keanekaragaman hayati, yang secara rinci, jelas dan tegas akan dapat dihitung. Dengan demikian berapa kekayaan yang terkandung di dalamnya dapat diketahui tanpa keragu-raguan. Penghitungan ini sangat penting dan sangat diperlukan untuk membuktikan betapa kayanya negeri kita, dan berapa yang dapat dimanfaatkan, serta untuk menentukan cara melestarikan keanekaragaman hayati – dalam arti luas, artinya termasuk pelestarian kandungan kemampuan pada masing-masing komponennya. Pertanyaannya ialah siapa yang akan melaksanakan kegiatan taksonomi seperti yang diharapkan itu?
1. Dengan menerapkan asas taksonomi yang terdiri atas empat kompartemen yang saling berhubungan, akan dapat diungkapkan identitas suatu komponen. Taksonomi yang mendalami unit yang digarap dengan mengungkapkan temuannya dari pendalaman ini akan membeberkan secara lengkap (atau mendekati tingkatan lengkap) sifat dan kandungan kemampuan unit yang digarap. Indentifikasi spesies dan pertelaannya akan membuka isi unit yang digarap. Taksonomi juga meletakkan unit yang digarap pada kelompok kekerabatan yang tepat.Tindakan ini telah mencantumkan tambahan unit yang tercakup dalam suatu kelompok kekerabatan yang bersangkutan. Tindakan ini telah membuka peluang untuk meningkatkan keanekaragaman pemanfaatan suatu unit keanekaragaman hayati. Sisi lain yang dapat terungkap juga ialah persebaran unit ini dalam dimensi ruangan (spatial) dan dimensi waktu (temporal). Hal ini penting untuk diketahui, karena pengelolaan unit-unit yang bersangkutan akan memerlukan informasi mengenai persebaran ini. Penghitungan secara kuantitatif dan kualitatif pun dapat dilakukan. Hasil dari penghitungan ini akan mempunyai dampak yang luas, di antaranya untuk menentukan laju pemunahan, derajat endemisme, dan pemantauan terhadap masuknya spesies asing yang membahayakan.
2. Pemanfaatan dan pelestarian unit-unit keanekaragaman hayati dalam berbagai taraf, bawah-spesies, spesies, dan ekosistem dengan menggunakan jasa taksonomi akan terasa dalam penyadapan sifat dan kemampuan komponen keanekaragaman hayati untuk pemanfaatannya. Penerapan taksonomi dalam hal ini telah terbukti dalam berbagai bidang, misalnya pertanian untuk pemuliaan tanaman dan ternak dalam menghasilkan bibit atau varietas unggul, serta untuk mengendalikan hama dan penyakit; kesehatan dalam menentukan vektor penyakit dan agen penyakitnya sendiri; permukiman untuk menentukan lokasi yang tepat bagi kenyamanan dan keamanan penghuni atau pemukim; lingkungan untuk menentukan spesies atau unit indikator mengenai keadaan atau kualita lingkungan tertentu; dan sebagainya.
3. Dilihat dari segi peran taksonomi dalam mengklasifikasi makhluk, jarak antarspesies, antar takson yang lebih tinggi, dengan demikian hubungan horisontal dan hubungan vertikal dapat diidentifikasi. Pengetahuan tentang hubungan ini sangat penting dalam praktek, di antaranya dalam menentukan manfaat suatu unit dalam hal perannya sebagai unit pengganti unit yang telah dikenal sebelumnya. Fenomena ini dapat berlaku untuk semua taraf keanekaragaman hayati, mulai dari taraf bawah-spesies sampai taraf yang lebih tinggi. Contoh, misalnya bila di suatu kawasan terdapat komponen keanekaragaman hayati yang mempunyai khasiat untuk tujuan tertentu, padahal komponen tersebut tidak terdapat di kawasan lain, maka bila kawasan lain ini hendak mengembangkan pemanfaatan yang sama dengan yang dilakukan terhadap komponen yang telah dimanfaatkan tersebut, kerabat terdekatnya yang terdapat di kawasan lain ini dapat diteliti secara langsung. Ketentuan mengenai derajat kedekatan kekerabatannya hanya dapat ditentukan oleh taksonomi. Inilah pentingnya klasifikasi yang disusun dengan penyelenggaraan taksonomi.
4. Taraf lebih tinggi daripada spesies ialah ekosistem. Taksonomi yang langkah pertamanya ialah identifikasi spesies, akan menentukan pula identitas ekosistem. Kandungan dalam ekosistem yang berwujud spesies akan menentukan kinerja ekosistem. Fungsi, keefektifan,, dan kestabilan ekosistem tergantung pada keberadaan spesies. Secara langsung, dengan demikian, arah dan keberhasilan pengelolaan ekosistem ditentukan pula oleh penerapan taksonomi. Peran taksonomi dalam hal ini juga berkait dengan persebaran ekosistem
Peran taksonomi seperti yang dianalisis di atas itu berpotensi dalam menentukan berapa derajat keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia. Bila taksonomi diterapkan secara konsekuen terhadap keanekaragaman hayati, untuk setiap kelompok yang digarap akan dapat ditunjukkan kandungannya dengan lengkap. Taksonomi dengan meneraplan asas dan tahap-tahap pelaksanaannya, mulai dari identifikasi, pendalaman mengenai kandungan unit yang diidentifikasi, pertelaannya secara lengkap, sampai penyebaran informasi mengenai unit yang digarap ini, pastilah pemanfaatannya, dan sekaligus pelestariannya dapat dirancang dengan hasil yang maksimal. Dengan penggarapan seperti ini, akan dapat diungkapkan betapa kayanya negeri kita dengan keanekaragaman hayati, yang secara rinci, jelas dan tegas akan dapat dihitung. Dengan demikian berapa kekayaan yang terkandung di dalamnya dapat diketahui tanpa keragu-raguan. Penghitungan ini sangat penting dan sangat diperlukan untuk membuktikan betapa kayanya negeri kita, dan berapa yang dapat dimanfaatkan, serta untuk menentukan cara melestarikan keanekaragaman hayati – dalam arti luas, artinya termasuk pelestarian kandungan kemampuan pada masing-masing komponennya. Pertanyaannya ialah siapa yang akan melaksanakan kegiatan taksonomi seperti yang diharapkan itu?
PERSIAPAN UNTUK MEMANFAATKAN TAKSONOMI PENYIAPAN SUMBER DAYA YANG CUKUP
Bukan hanya siapa yang akan melaksanakan penyelenggaraan taksonomi untuk menghitung keanekaragaman hayati Indonesia. Banyak segi lain yang akan terlibat dalam upaya penyelenggaraan taksonomi ini. Pertama yang harus dipikirkan ialah pengembangan pendidikan taksonomi yang akan dapat menghasilkan taksonomiwan yang sanggup menyelenggarakan taksonomi untuk tujuan pengungkapan kekayaan hayati negeri kita, sesuai kebutuhan.
Kebutuhan pendidikan ini tidak beridiri sendiri. Akan diperlukan lembaga dan tenaga pendidik serta bahan pendidikan yang memadai untuk menghasilkan taksonomiwan yang diperlukan tersebut. Dengan keadaan taksonomi seperti yang dihadapi Indonesia seperti sekarang ini, jauh sekali terpenuhinya harapan. Pendidikan taksonomi tidak terselenggara di Indonesia karena anggapan bahwa taksonomi tidak mempunyai daya guna. Anggapan bahwa taksonomi tidak berdaya guna akan menyebabkan pendidikannya tidak mendapat tanggapan yang layak. Akibatnya ialah pemahaman terhadap taksonomi menjadi tidak yang sebenarnya, sehingga taksonomi menjadi tidak berdaya guna. Lingkaran setan ini perlu diputuskan untuk dapat mengembangkan pendidikan taksonomi yang efektif.
Tantangannya ialah mengembangkan cara untuk menarik minat masyarakat, terutama mahasiswa agar bersedia menekuni taksonomi. Upaya ini akan terbentur pada kenyataan anggapan bahwa taksonomi merupakan disiplin ilmu yang bila telah ditekuni tidak memberikan peluang kerja bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikan taksonomi. Beberapa langkah yang mungkin dapat direncanakan sebagai strategi menjaring penuntut ilmu taksonomi dapat disusun sebagai berikut :
1. Pengembangan kebutuhan akan menginventarisasi kekayaan alam hayati yang dimiliki oleh suatu daerah. Kebutuhan ini akan berkembang bila daerah yang bersangkutan akan melaksanakan pembangunannya dengan memanfaatkan sumber daya hayati yang terdapat di kawasannya. Tanpa pengetahuan mengenai kandungan kekayaan hayatinya, daerah yang bersangkutan akan sulit untuk merencanakan pembangunan yang terarah sehingga pemanfaatan sumber daya hayatinya dan pelestariannya akan terjamin. Undang-undang No. 22, tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah, dan Peraturan Pemerintah No. 25, tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom mencanangkan perlunya pemanfaatan sumber daya daerah.
2. Di era globalisasi pemanfaatan sumber daya genetik dari negara lain merupakan hal yang makin lama makin marak. Untuk menghindari gejala pencurian sumber daya hayati yang akan dimanfaatkan di luar negeri, atau oleh perusahaan di dalam negeri yang memperoleh sumber daya ini secara tidak sah, telah dirancang suatu undang-undang mengenai pengelolaan sumber daya genetik, termasuk akses terhadap sumber daya ini dan pembagian keuntungannya secara adil dan merata. Terlaksanakan peraturan ini akan sangat tergantung pada pengetahuan pemilik keanekaragaman sumber daya genetik mengenai sumber daya genetik yang dimilikinya. Pengetahuan ini akan dapat diperoleh hanya dengan penyelenggaraan taksonomi. Valuasi terhadap sumber dya genetik juga akan dapat dilakukan melalui langkah taksonomi. Valuasi ini penting jika pembagian keruntungan dari pemanfaatan terhadap sumber daya genetik yang bersangkutan akan dibagi secara adil dan merata.
3. Yang tidak kalah pentingnya ialah pilihan kelompok yang akan ditangani dengan penyelenggaraan taksonomi. Pemilihan ini penting, karena terbatasnya waktu yang tersedia dan desakan kebutuhan yang tinggi. Perlu disusun kriteria yang pantas dan tepat untuk menentukan kelompok yang akan diperlakukan dengan taksonomi. Di Indonesia banyak tersedia kelompok keanekaragaman hayati yang menanti untuk ditangani. Kriteria pemilihan harus mengacu pada urutan kebutuhan terhadap kelompok komponen keanekaragaman hayati yang akan dimanfaatkan atau yang mempunyai nilai kepentingan tinggi. Penentuan kriteria ini pun memerlukan uluran tangan takonomi.
4. Perlu adanya kesatuan pandang antara pihak pendidikan (tinggi) dan pemerintah daerah untuk menyusun kurikulum pendidikan yang akan menghasilkan taksonomiwan tangguh.
Kebutuhan pendidikan ini tidak beridiri sendiri. Akan diperlukan lembaga dan tenaga pendidik serta bahan pendidikan yang memadai untuk menghasilkan taksonomiwan yang diperlukan tersebut. Dengan keadaan taksonomi seperti yang dihadapi Indonesia seperti sekarang ini, jauh sekali terpenuhinya harapan. Pendidikan taksonomi tidak terselenggara di Indonesia karena anggapan bahwa taksonomi tidak mempunyai daya guna. Anggapan bahwa taksonomi tidak berdaya guna akan menyebabkan pendidikannya tidak mendapat tanggapan yang layak. Akibatnya ialah pemahaman terhadap taksonomi menjadi tidak yang sebenarnya, sehingga taksonomi menjadi tidak berdaya guna. Lingkaran setan ini perlu diputuskan untuk dapat mengembangkan pendidikan taksonomi yang efektif.
Tantangannya ialah mengembangkan cara untuk menarik minat masyarakat, terutama mahasiswa agar bersedia menekuni taksonomi. Upaya ini akan terbentur pada kenyataan anggapan bahwa taksonomi merupakan disiplin ilmu yang bila telah ditekuni tidak memberikan peluang kerja bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikan taksonomi. Beberapa langkah yang mungkin dapat direncanakan sebagai strategi menjaring penuntut ilmu taksonomi dapat disusun sebagai berikut :
1. Pengembangan kebutuhan akan menginventarisasi kekayaan alam hayati yang dimiliki oleh suatu daerah. Kebutuhan ini akan berkembang bila daerah yang bersangkutan akan melaksanakan pembangunannya dengan memanfaatkan sumber daya hayati yang terdapat di kawasannya. Tanpa pengetahuan mengenai kandungan kekayaan hayatinya, daerah yang bersangkutan akan sulit untuk merencanakan pembangunan yang terarah sehingga pemanfaatan sumber daya hayatinya dan pelestariannya akan terjamin. Undang-undang No. 22, tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah, dan Peraturan Pemerintah No. 25, tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom mencanangkan perlunya pemanfaatan sumber daya daerah.
2. Di era globalisasi pemanfaatan sumber daya genetik dari negara lain merupakan hal yang makin lama makin marak. Untuk menghindari gejala pencurian sumber daya hayati yang akan dimanfaatkan di luar negeri, atau oleh perusahaan di dalam negeri yang memperoleh sumber daya ini secara tidak sah, telah dirancang suatu undang-undang mengenai pengelolaan sumber daya genetik, termasuk akses terhadap sumber daya ini dan pembagian keuntungannya secara adil dan merata. Terlaksanakan peraturan ini akan sangat tergantung pada pengetahuan pemilik keanekaragaman sumber daya genetik mengenai sumber daya genetik yang dimilikinya. Pengetahuan ini akan dapat diperoleh hanya dengan penyelenggaraan taksonomi. Valuasi terhadap sumber dya genetik juga akan dapat dilakukan melalui langkah taksonomi. Valuasi ini penting jika pembagian keruntungan dari pemanfaatan terhadap sumber daya genetik yang bersangkutan akan dibagi secara adil dan merata.
3. Yang tidak kalah pentingnya ialah pilihan kelompok yang akan ditangani dengan penyelenggaraan taksonomi. Pemilihan ini penting, karena terbatasnya waktu yang tersedia dan desakan kebutuhan yang tinggi. Perlu disusun kriteria yang pantas dan tepat untuk menentukan kelompok yang akan diperlakukan dengan taksonomi. Di Indonesia banyak tersedia kelompok keanekaragaman hayati yang menanti untuk ditangani. Kriteria pemilihan harus mengacu pada urutan kebutuhan terhadap kelompok komponen keanekaragaman hayati yang akan dimanfaatkan atau yang mempunyai nilai kepentingan tinggi. Penentuan kriteria ini pun memerlukan uluran tangan takonomi.
4. Perlu adanya kesatuan pandang antara pihak pendidikan (tinggi) dan pemerintah daerah untuk menyusun kurikulum pendidikan yang akan menghasilkan taksonomiwan tangguh.
SIMPULAN DAN SARAN
Suatu dilema telah dihadapi dalam memanfaatkan sumber daya genetik. Kebutuhan akan taksonomi di satu pihak dan kesalahan pemahaman terhadap taksonomi di lain pihak. Padahal kedua pihak ini, sumber daya genetik dan taksonomi, harus dalam satu ikatan yang saling memberdayagunakan. Untuk dapat mempersatukan dua pihak yang saling memerlukan, tetapi terhalang oleh kesalahpahaman, memang perlu dilakukan upaya oleh banyak pihak. Semua pemangku kepentingan, khususnya pengambil keputusan dalam pembangunan dan pengambil keputusan dalam pembuatan kurikulum pendidikan diharapkan dapat bertemu dan membahas permasalahannya secara tuntas untuk berujung pada tersedianya taksonomiwan yang cukup dalam kuantita dan kualita yang dapat menakar keanekaragaman hayati, pada semua taraf, untuk dapat dikelola secara berhasil guna dan berdaya guna. Semuanya terpulang kepada pengambil kebijakan dan kegigihan kelompok masyarakat yang peduli akan kelestarian dan pemanfaatan sumber daya hayati kita yang berinduk kepada keanekaragaman hayati. Perhatian kepada taksonomi mamang harus diberikan secara penuh dan bersungguh-sungguh, bila kehadiran keaneakragaman hayati akan dapat dikelola secara berkelanjutan.
Suatu dilema telah dihadapi dalam memanfaatkan sumber daya genetik. Kebutuhan akan taksonomi di satu pihak dan kesalahan pemahaman terhadap taksonomi di lain pihak. Padahal kedua pihak ini, sumber daya genetik dan taksonomi, harus dalam satu ikatan yang saling memberdayagunakan. Untuk dapat mempersatukan dua pihak yang saling memerlukan, tetapi terhalang oleh kesalahpahaman, memang perlu dilakukan upaya oleh banyak pihak. Semua pemangku kepentingan, khususnya pengambil keputusan dalam pembangunan dan pengambil keputusan dalam pembuatan kurikulum pendidikan diharapkan dapat bertemu dan membahas permasalahannya secara tuntas untuk berujung pada tersedianya taksonomiwan yang cukup dalam kuantita dan kualita yang dapat menakar keanekaragaman hayati, pada semua taraf, untuk dapat dikelola secara berhasil guna dan berdaya guna. Semuanya terpulang kepada pengambil kebijakan dan kegigihan kelompok masyarakat yang peduli akan kelestarian dan pemanfaatan sumber daya hayati kita yang berinduk kepada keanekaragaman hayati. Perhatian kepada taksonomi mamang harus diberikan secara penuh dan bersungguh-sungguh, bila kehadiran keaneakragaman hayati akan dapat dikelola secara berkelanjutan.
DAFTAR BACAAN
Adisoemarto, S. (Ed.). 1998. Sumber daya alam sebagai modal dalam pembangunan berkelanjutan. LIPI.
Adisoemarto, S. 2001. Merelevankan taksonomi. Loka Karya Pengembangan Taksonomi Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup, 21 November 2001.
Adisoemarto, S. 2003. Membumikan taksonomi : mengapa dibumikan dan bagaimana membumkannya. Semiloka Membumikan Taksonomi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 22 Maret 2003.
Adisoemarto, S. 2003. Pembelajaran taksonomi yang benar. Pencerahan Taksonomi di Hadapan Guru-guru SMU se-DKI, Universitas Indonesia, Jakarta, 27 Mei 2003.
Asimov, I. 1962. The genetic code. Signet Science Library. Published by the American Library, New York.
Christensen, C.M. 1965. The molds and man. McGraw-Hill Book Coy. New York.
Convention on Biological Diversity. Text and annexes. Glen, Switzerland
Darlington, P.J., Jr. 1957. Zoogeography : the geographical distribution of animals. John Wiley & Sons, Inc. New York.
Groombridge, B. (Ed.). 1992. Global biodiversity. Status of the earth’s living resources. Chapman & Hall. New York.
Guarino, L., V.R. Rao, and R. Reid (Eds.). 1995. Collecting plant genetic resources. Technical Guidelines. IPGRI-FAO-UNEP-IUCN-CAB International.
Mason, S.F. 1962. A history of the sciences. Collier Books. New York.
Mayr, E. 1963. Animal species and evolution. The Belknap Press. Cambrdge, Massachusetts.
Paroda, R.S. & R.K. Arora (Eds.). 1991. Plant genetic resources. Conservation and management. IBPGR- regional Office for South and southeast Asia. New Delhi.
Stuessy, T.F. 1990. Plant taxonomy. Columbia University Press. New York.
Swaminathan, M.S & S. Jana (Eds.). 1992. Biodiversity. Implications for global food security. Macmillan India Ltd. Madras.
Wilson, E.O. 1992. The biodiversity of life. Allen Lane. The Pinguin Press.
Adisoemarto, S. 2001. Merelevankan taksonomi. Loka Karya Pengembangan Taksonomi Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup, 21 November 2001.
Adisoemarto, S. 2003. Membumikan taksonomi : mengapa dibumikan dan bagaimana membumkannya. Semiloka Membumikan Taksonomi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 22 Maret 2003.
Adisoemarto, S. 2003. Pembelajaran taksonomi yang benar. Pencerahan Taksonomi di Hadapan Guru-guru SMU se-DKI, Universitas Indonesia, Jakarta, 27 Mei 2003.
Asimov, I. 1962. The genetic code. Signet Science Library. Published by the American Library, New York.
Christensen, C.M. 1965. The molds and man. McGraw-Hill Book Coy. New York.
Convention on Biological Diversity. Text and annexes. Glen, Switzerland
Darlington, P.J., Jr. 1957. Zoogeography : the geographical distribution of animals. John Wiley & Sons, Inc. New York.
Groombridge, B. (Ed.). 1992. Global biodiversity. Status of the earth’s living resources. Chapman & Hall. New York.
Guarino, L., V.R. Rao, and R. Reid (Eds.). 1995. Collecting plant genetic resources. Technical Guidelines. IPGRI-FAO-UNEP-IUCN-CAB International.
Mason, S.F. 1962. A history of the sciences. Collier Books. New York.
Mayr, E. 1963. Animal species and evolution. The Belknap Press. Cambrdge, Massachusetts.
Paroda, R.S. & R.K. Arora (Eds.). 1991. Plant genetic resources. Conservation and management. IBPGR- regional Office for South and southeast Asia. New Delhi.
Stuessy, T.F. 1990. Plant taxonomy. Columbia University Press. New York.
Swaminathan, M.S & S. Jana (Eds.). 1992. Biodiversity. Implications for global food security. Macmillan India Ltd. Madras.
Wilson, E.O. 1992. The biodiversity of life. Allen Lane. The Pinguin Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar