Selasa, 26 April 2011

data pets ninja saga

Kalau kamu sudah berhasil melewati ujian Chunin. Kamu bakalan bisa memiliki pet yang bisa membantumu saat bertarung melawan musuh.

Disini kamu bisa melihat seperti apa saja kemampuan dari pet yang ingin kamu miliki. Jadi kamu gak bakalan beli kucing dalam karung.

Setiap pet memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tidak ada yang sempurna. Namun banyak yang menyesal telah membeli pet Shika, karena harganya mahal, namun kemampuannya minimal.

Kalau kamu pengen mengurangi dodge musuh, kami sarankan kamu pilih Chiko.

Kalau kamu pengen powerfull pilih Keiko.

Kalau health mu dikit dan kamu pengen dilindungi pilih Suki.

Kalau kamu suka mengandalkan stun, pilih Suzu.

Kalau kamu suka dengan jurus blind, sehingga ketika musuh menyerangmu menjadi tidak akurat dan mengakibatkan serangan musuh menjadi dodge, pilih Eriko

Sedangkan Leiko, jarang yang menggunakan, jadi kami rasa Leiko kurang populer.

Kalau kamu ada masukan, atau dirasa penjelasan kami kurang cocok, kamu bisa koq ikut berdiskusi di kolom komentar dibawah. 



Nama : Eriko
Harga : 100.000 gold
Tipe : Offense
Deskripsi : Anjing yang terlatih, memiliki kelebihan dalam hal berburu.

Eriko
Skill :
1st skill = Bite.
2nd skill = Spin Attack.
3rd skill = Fart (Blind: Menurunkan Akurasi lawan utk 1 turn).

Harga Skill:

* Skill 1 = Langsung didapat ketika kamu beli pet.
* Skill 2 = Pet harus level 10, biaya latihan skill 50,000 gold.
* Skill 3 = Pet harus level 20, biaya latihan skill 100,000 gold.




Nama : Chiko
Harga : 100.000 gold
Tipe : Offense
Deskripsi : Burung yang memiliki kelebihan dalam elemen angin.

Skill :
1st skill = Flying Attack.
2nd skill = Blows wind.
3rd skill = Inertia Dodge (Mengurangi chance dodging lawan).

Harga Skill:

* Skill 1 = Langsung didapat ketika kamu beli pet.
* Skill 2 = Pet harus level 10, biaya latihan skill 50,000 gold.
* Skill 3 = Pet harus level 20, biaya latihan skill 100,000 gold.




Nama : Suki
Harga : 100.000 gold
Tipe : Defense
Deskripsi : Hewan yang membantu dalam pertahanan.

Skill :
1st skill = Head Strike.
2nd skill = Forceful Head Strike.
3rd skill = Protection (Mengurangi Damage serangan lawan).

Harga Skill:

* Skill 1 = Langsung didapat ketika kamu beli pet.
* Skill 2 = Pet harus level 10, biaya latihan skill 50,000 gold.
* Skill 3 = Pet harus level 20, biaya latihan skill 100,000 gold.




Nama : Suzu
Harga : 100.000 gold
Tipe : Support
Deskripsi : Hewan yang lucu dan memiliki kemampuan untuk bertarung.

Skill :
1st skill = normal attack.
2nd skill = scratch attack.
3rd skill = Catgirl Transformation (stun 1 turn).

Harga Skill:

* Skill 1 = Langsung didapat ketika kamu beli pet.
* Skill 2 = Pet harus level 10, biaya latihan skill 50,000 gold.
* Skill 3 = Pet harus level 20, biaya latihan skill 100,000 gold.




Nama : Leiko
Harga : 100.000 gold
Tipe : Support
Deskripsi : Ular yang sombong dan bisa menghianati tuannya.

Skill :
1st skill = normal Bite.
2nd skill = Screech attack.
3rd skill = Spit Poison (terkena poison : Hp berkurang 3% selama 2 turn).

Harga Skill:

* Skill 1 = Langsung didapat ketika kamu beli pet.
* Skill 2 = Pet harus level 10, biaya latihan skill 50,000 gold.
* Skill 3 = Pet harus level 20, biaya latihan skill 100,000 gold.





Nama : Keiko
Harga : 400 token
Tipe : Offense
Deskripsi : Pet terkuat bila dibandingkan dengan pet lain, hal ini senilai dengan harga belinya yang menggunakan token.

Skill :
1st skill = Kunai Attack.
2nd skill = Tongue Attack (Restriction: Tidak dapat menggunakan skill).
3rd skill = Spit Fire (Deals damage & mengurangi 3% Hp musuh selama 2 turns).

Harga Skill:

* Skill 1 = Langsung didapat ketika kamu beli pet.
* Skill 2 = Pet harus level 10, biaya latihan skill 50,000 gold.
* Skill 3 = Pet harus level 20, biaya latihan skill 100,000 gold.





Nama : Shika (Pet Spesial Natal)
Harga : 400 token
Tipe : Offense
Deskripsi : Rusanya santa neh, spesialis dalam hal penyerangan.

reinder
Skill :
1st skill : Normal attack
2nd skill : Charge (nyruduk musuh)
3rd skill: Cleaning (menghilangkan status negative seperti halnya purify)
4th skill: Frozen icicle (?????)

Harga Skill:

* Skill 1 = Langsung didapat ketika kamu beli pet.
* Skill 2 = Pet harus level 10, biaya latihan skill 50,000 gold.
* Skill 3 = Pet harus level 20, biaya latihan skill 100,000 gold.
* Skill 4 = Pet harus level 30, biaya latihan skill 150,000 gold.

Jumat, 18 Maret 2011

PENTINGNYA PENGUKURAN DERAJAT KEANEKARAGAMAN HAYATI: BETAPA KAYA INDONESIA DALAM PLASMA NUTFAH TETAPI BERAPA KAYANYA ?

PENDAHULUAN
Setiap kali dinyatakan betapa kaya Indonesia dalam keanekaragaman hayati. Angka demi angka telah disebutkan untuk berbagai kelompok biota. Angka-angka ini juga disebutkan terhadap biota di seluruh dunia, dan untuk bagian-bagian bumi, negara, serta kawasan-kawasan yang lebih rinci. Pernyataan-pernyataan tersebut tentunya didasarkan suatu pertimbangan atau perhitungan. Perhitungan dan pertimbangan inilah yang perlu disimak, agar dapat diyakini apakah pernyataan-pernyataan yang diberikan mengenai kekayaan hayati ini telah menggunakan dasar yang jelas dan nyata. Perhitungan ini telah banyak dilakukan pada taraf spesies, dan juga terhadap taraf-taraf lainnya, termasuk keanekaragaman pada taraf sumber daya genetik atau plasma nutfah). Walaupun demikian, masih banyak pihak yang belum mengetahui cara, yaitu metode dan mekanisme, yang digunakan dalam penghitungan tersebut.Adanya metode penghitungan keanekaragaman hayati perlu diketahui oleh masyarakat, agar masyarakat dapat menentukan sikap apakah angka-angka yang dikemukakan dalam pernyataan mengenai kekayaan hayati itu benar dan berdasar. Sikap ini penting artinya dalam pengelolaan keanekaragaman hayati yang bersangkutan, sehingga dalam pengelolaan ini dapat dicapai hasil yang efektif. Ungkapan akan kekayaan yang didasarkan kebenaran yang diperoleh dari penghitungan dan pertimbangan yang benar akan menentukan kebijakan baik pelestarian maupun pemanfaatan secara berkelanjutan komponen-komponen keanekaragaman hayati dalam berbagai taraf. Dengan kebijakan yang tepat akan dapat dikembangkan suatu perencanaan dan kegiatan pelaksanaannya dengan tepat pulaMengetahui penghitungan derajat keanekaragaman hayati untuk semua taraf memang diperlukan, agar masyarakat dapat diajak menentukan pengelolaan keanekaragaman hayati, termasuk pada taraf plasma nutfah dan taraf lainnya, secara langsung. Pengetahuan dan kelangsungan partisipasi masyarakat dalam penghitungan berapa kekayaan hayati ini yang dimiliki suatu negara, khususnya Indonesia, dan kawasan-kawasan di dalamnya, perlu dimliki masyarakat, agar selanjutnya masyarakat dapat menghargai kandungan keanekaragaman hayati pada suatu kawasan, terutama yang ada di sekitarnya, bahkan untuk seluruh negeri.Tentu saja sikap masyarakat seperti ini mempunyai arti yang penting, karena sikap ini dapat dibawa untuk memberhasilkan pengelolaan keanekaragaman hayati. Selain itu, bila masyarakat dapat mengetahui metode yang digunakan dalam menentukan derajat keanekaragaman hayati, masyarakat akan dapat menghargai pentingnya metode dan mekanisme yang dimaksud ini.
Begitu pentingnya cara menentukan derajat keanekaragaman hayati untuk keperluan pengelolaannya, masyarakat perlu juga mengetahui apa bentuk cara yang digunakan ini. Secara umum telah diungkapkan dan diulas pentingnya dan kegunaan taksonomi sebagai cara yang dimaksud. Agar masyarakat dapat memberikan apresiasinya terhada taksonomi sebagai metode dalam penghitungan derajat keanekaragaman hayati, beberapa segi mengenai taksonomi harus diberitahukan, yaitu di antaranya mengenai asas dan fungsi taksonomi, dalam bentuk manfaat yang nyata dari kaidahnya yang sesungguhnya. Bila kaidah taksonomi telah diketahui, maka cara memanfaatkan taksonomi, khususnya untuk pengelolaan – pelestarian dan pamanfaatan secara berkelanjutan – keanekaragaman hayati dapat dirumuskan dan diterapkan.MENELAAH KEANEKARAGAMAN HAYATI UNTUK BERMITRAAN DENGAN TAKSONOMI
Dalam membahas manfaat taksonomi terhadap keanekaragaman hayati, harus dimengerti secara jelas makna dan cakupan baik keanekaragaman hayati maupun taksonomi. Keanekaragaman hayati merupakan obyek yang akan mendapat perlakuan, sedangkan taksonomi merupakan subyek yang akan memberikan perlakuan. Keanekaragaman hayati tanpa perlakuan dari taksonomi akan tidak dapat dikelola dengan baik, konservasinya kurang terarah dan tidak menyeluruh, sedangkan pemanfaatannya akan cenderung dilakukan secara boros. Sebaliknya, taksonomi bila tidak dimanfaatkan untuk memberikan perlakuan terhadap keanekaragaman hayati akan menjadi disiplin ilmu yang mubazir. Pemaduannya yang serasi akan memberikan hasil optimum baik dalam pengelolaan keanekaragaman hayati maupun dalam memberdayakan kehadiran taksonomi.PEMAHAMAN MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI
Pemahaman terhadap makna keaneakaragaman hayati telah secara resmi diupayakan dengan membuat rumusan definisinya dalam Convention on Biological Diversity. Akan tetapi untuk memahaminya secara menyeluruh, perlu suatu uraian, sehingga keseluruhan maknanya dapat dipahami dan manfaatnya secara totalitas dapat disadari. Pendapat ini dikemukakan karena rumusan definisi keanekaragaman hayati tersebut tidak menunjukkan cakupan segi-segi yang perlu dilestarikan dan yang mungkin dapat dimanfaatkan. Akibat keterbatasan definisi dan pengertiannya ialah bahwa perlakuan masyarakat terhadap keanekaragaman hayati masih belum menjamin pelestariannya dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Keadaan ini mencakup pula kesulitan bagi pengambil kebijakan dan penyusun strategi dalam menentukan kebijakan, strategi, serta rancang tindaknya. Tidaklah mengherankan bila masih banyak kegiatan pengelolaan (melestarikan dan memanfaatkan secara berkelanjutan) keanekaragaman hayati yang tidak mengena sasaran.Sampai kini, pada umumnya masyarakat – pada hampir semua lapisan – melihat keanekaragaman hayati hanya sebatas bentuk luar. Keterbatasan ini merupakan dampak dari keterbatasan pemahaman akan makna keanekaragaman hayati. Bila seseorang melihat komponen-komponen keanekaragaman hayati, yang akan dilihat adalah bentuk dan rupa komponen ini, sebatas pada penglihatan. Melihat harimau, macan kumbang, harimau dahan, kelompok pohon meranti, kelompok durian, kelompok mangga, dan lain-lain biota, yang terpikirkan hanya segi-segi yang sangat terbatas. Untuk kelompok-kelompok liar, tidak banyak segi yang terpikirkan, kecuali apa yang dilihat dan pernah dialami. Selain itu, misalnya pemikiran mengenai hubungan antara satu unit keanekaragaman hayati dan lainnya serta dampak selanjutnya dari adanya hubungan ini, baik bagi komponen-komponen yang bersangkutan maupun bagi lingkungan atau bagian-bagian lain dalam habitat, tidak pernah terbayangkan. Keterbatasan ini tidak saja mengenai komponen-komponen liar, yang ada di alam, tetapi juga yang telah lama dikenal dan dimanfaatkan sehari-hari.Bila diambil contoh mangga dan kerabatnya, kebembem, kemang, pakel, dan kweni, yang lazim dipahami mengenai kelompok ini ialah bentuk, rasa, dan kegunaannya sebagai bahan yang dapat dimakan. Selebihnya tidak pernah terpikirkan. Tentunya masih banyak segi lain keanekaragaman yang dapat ditelusuri dari anggota-anggota kelompok ini, yang kemudian memerlukan pengelolaannya yang mengena. Hanya dengan pemahaman yang terbatas tersebut, penanganan dalam pengelolaannya, yaitu pelestarian dan pemanfaatannya secara berkelanjutan, juga akan hanya terbatas tujuan yang terbatas pula. Upaya untuk tujuan lain tidak pernah terpikirkan karena keanekaragaman yang dapat dibayangkan hanya sebatas yang terpikirkan. Keterbatasan ini berlaku pula untuk komoditi lain, bukan saja tanaman tetapi juga hewan. Akan lebih luas lagi upaya pemahaman mengenai keanekaragaman bila mencapai taraf yang lebih bawah, yaitu taraf keanekaragaman sumber daya genetik atau plasma nutfah. Taraf ini akan mempunyai lebih banyak segi keanekaragaman. Di sini pun pandangan terhadap keanekaragaman masih terbatas seperti pemahaman tradisional yang telah berlangsung sepanjang kebudayaan manusia. Hal yang sama juga berlaku bagi hewan. Pertanyaannya ialah mengapa terjadi keterbatasan ini?
Pengungkapan keanekaragaman pada makhluk harus mencakup segi-segi lain, disamping tampak luarnya. Komponen keanekaragaman hayati adalah entitas hidup, yang harus menyelenggarakan hidupnya dengan peri laku dan kegiatan-kegiatan secara menyeluruh. Semua segi ini juga mempunyai keanekaragamannya. Komponen biota harus makan, berbiak, bergerak, memencar, mempertahankan diri dan menyerang. Semua segi kegiatan ini dilaksanakan menurut kemampuan dan cara masing-masing. Karena biota beraneka ragam, jelaslah bahwa semua segi kegiatan tersebut juga beraneka ragam. Keanekargaman inilah yang perlu dipikirkan secara jelas agar dalam pengelolaannya segi-segi ini juga tercakup. Dengan uraian ini diharapkan makin dapat disadari bahwa keanekaragaman bukanlah semata-mata pada tampak luarnya, tetapi semua sifat dan kemampuan yang dimiliki makhluk hidup.PEMAHAMAN TERHADAP TAKSONOMI
Dimana kemitraan taksonomi dalam mengelola keanekaragaman hayati? Akan tiba saatnya bila harus dijawab pertanyaan mengenai cara menentukan kekayaan alam hayati Indonesia. Berkali-kali terucapkan pernyataan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dalam keanekaragaman hayati. Pertanyaan yang harus dijawab ialah bagaimana diketahui bahwa Indonesia memang benar-benar negara yang kaya akan keanekaragaman hayati? Sudah sering diungkapkan berbagai angka mengenai jumlah kelompok-kelompok biota yang ada di Indonesia. Akan tetapi, kebenaran angka ini masih belum dapat dipastikan. Pada taraf dunia pun angka keanekaragaman kelompok-kelompok fauna dan flora, termasuk kelompok rendah dan jasad renik, masih belum mantap. Kisaran dari 2 juta sampai 100 juta telah dikemukakan dalam berbagai media pembeberan keanekaragaman hayati dunia. Kisaran yang sangat lebar ini menandakan belum diterapkannya metode dan mekanisme penghitungan derajat keanekaragaman hayati secara benar, sehingga belum ada gambaran yang sebenaranya mengenai derajat keanekaragaman hayati dunia. Hal ini tidak mengecualikan Indonesia.
Taksonomi merupakan disiplin ilmu yang dengan mantap akan dapat menghitung satuan keanekaragaman hayati, bukan saja pada segi yang terlihat, tetapi juga segi-segi lain yang meliputi seluruh kandungan makhluk hidup untuk menyelenggarakan hidupnya. Sifat dan kemampuan makhluk akan menjadi sasaran pelaksanaan taksonomi. Apa sebetulnya taksonomi itu? Inilah yang harus dipahami dulu sebelum dapat dilakukan penerapan taksonomi untuk menelaah keanekaragaman hayati. Pemanfaatan taksonomi memerlukan persiapan. Persiapan ini diperlukan, khususnya di Indonesia karena taksonomi telah disalahartikan dan disalahajarkan. Bukanlah taksonomi yang diajarkan dan dipahami, melainkan sekadar menghafalkan daftar susunan klasifikasi, keharusan menghafal nama Latin, dan keharusan menghafal kedudukan takson dalam hierarki klasifikasinya. “Taksonomi” seperti ini tidak akan mampu bermitra dengan dan mampu menelaah kandungan keanekaragaman hayati. Agar taksonomi dapat berfungsi dengan semestinya, sehingga dapat benar-benar bermitraan dengan keanekaragaman hayati untuk tujuan penelaahaannya, telah sering uraian berikut ini diungkapkan.
Taksonomi diselenggarakan berdasarkan tiga pedoman :
1. Memahami asas – penting, karena inilah langkah pertama yang harus dilakukan dalam menyelenggarakan taksonomi.
2. Menyimak perkembangan – sangat perlu karena akan menyesuaikan kinerja taksonomi dan mendinamiskannya.
3. Mewujudkan fungsi dan memainkan peran – menunjukkan taksonomi ada gunanya.
Memahami asas tidak dapat ditinggalkan karena asas merupakan pijakan yang akan dijadikan landasan dalam menyelenggarakan taksonomi. Dengan dasar pijakan ini taksonomi akan mampu mengungkapkan informasi yang terkandung di dalam makhluk hidup. Asas taksonomi yang dijadikan landasan berupa empat komponen yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Oleh karena itu, keempatnya tidak dapat dipisahkan dan harus diterapkan secara terpadu. Keempat asas ini terurai sebagai berikut :
1. spesies merupakan unit dasar dalam penyelenggaraan taksonomi; dengan unit dasar ini keanekaragaman hayati dapat ditakar dan diukur, dalam kuantita dan dalam kualita, dengan hitungan jumlah atau satuan komponen, termasuk pengungkapan sifat dan kemampuan masing-masing;
2. spesies merupakan unit yang hidup; harus disadari bahwa spesies tidak statis, tetapi dapat berubah dalam konteks kedinamisan, yaitu menyesuaikan diri, berkembang, dan menghasilkan rintisan pembentukan entitas baru; kedinamisan ini melibatkan seluruh spesies, artinya perubahan dan perkembangan yang terjadi tidak dalam keseragaman;
3. terdapat keanekaragaman di dalam spesies; individu-individu di dalam spesies tidak dalam keseragaman, baik pada dimensi ruangan maupun dalam dimensi waktu;
4. atribut di dalam spesies merupakan aset spesies dalam proses menuju kontinuum dan diskontinuum; keanekaragaman di dalam spesies merupakan cerminan keanekaragaman totalitas atribut di dalam spesies; dengan keanekaragaman totalitas atribut ini dimungkinkan terjadinya perkembangan secara dinamis, secara horisontal dan vertikal; secara horisontal terbentuklah diskontinuum, termanifestasi dalam perbedaan satu spesies dengan spesies yang lain; secara vertikal terjalin hubungan kekerabatan, atau fenomena kontinuum, yang terwujud dalam susunan hierarki dalam klasifikasi.
Menyimak perkembangan taksonomi dapat menuntun penyelenggara taksonomi untuk mampu mempertimbangkan penyesuaian pelaksanaannya terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang mempunyai pengaruh dalam penerapan taksonomi dan pengembangan konsep. Pelaku taksonomi harus peka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi dalam kurun waktunya dan sadar akan proyeksi perkembangan ke masa mendatang. Taksonomiwan harus mempunyai daya antisipasi, sesuai latar belakang pengetahuan yang dimilikinya dan kelompok makhluk hidup yang dikajinya.
Mewujudkan fungsi dan memainkan peran taksonomi merupakan pedoman ketiga dalam menyelenggarakan taksonomi ialah kemampuan untuk mewujudkan fungsi dan memainkan peran taksonomi. Kemampuan ini dapat ditempuh melalui beberapa langkah pemahaman terhadap keperluan pasar (pangsa).
1. Memahami keperluan pasar : sanggup menyediakan layanan yang diperlukan pasar (memenuhi permintaan) berupa informasi taksonomi. Taksonomiwan harus mempunyai kejelian dalam mengamati kebutuhan pengguna jasa taksonomi dalam mengelola (melestarikan dan memanfaatkan) keanekaragaman hayati.
2. Menyediakan informasi taksonomi : jasa pelayanan yang mengungkapkan sifat dan kemampuan unit/komponen keanekaragaman hayati. Taksonomiwan diharapkan menjadi produsen informasi untuk keperluan pengguna informasi taksonomi (termasuk pengambil kebijakan).
3. Penerimaan pengetahuan masyarakat lokal sebagai informasi taksonomi. Dengan memfungsikan dan memainkan peran taksonomi dapat dilakukan peresmian (formalisasi) unsur pengetahuan ini kedalam konteks informasi taksonomi dengan menerapkan 4 asas secara terpadu. Dalam konteks taksonomi, pengetahuan masyarakat lokal berguna dalam mengembangkan kriteria penentuan kelompok prioritas keanekaragaman hayati untuk keperluan kegiatan lebih lanjut, khususnya dalam valuasi komponen keanekaragaman hayati.
4. Dari segi lain, misalnya kepariwisataan pun informasi taksonomi juga diperlukan. Contoh yang dapat dikemukakan ialah informasi mengenai kekayaan alam, tapak yang menarik, di mana dan kapan munculnya, dalam bentuk apa, kandungan daya tarik yang dapat diharapkan, pada taraf spesies, ekosistem, plasma nutfah dsb. Ekowisata memerlukan informasi taksonomi, karena ekowisata tidak dibatasi oleh binatang-binatang besar, tetapi juga hal-hal yang menarik yang terkandung dalam spesies dan ekosistem, misalnya proses mekar bunga, penyerbukan, beraneka ragamnya tanaman padi, palawija dan sebagainya, pemangsaan dan pemarasitan, simbiosis dan bentuk kerja sama lainnya, serta hal-hal menarik lainnya yang dapat dinikmati para wisatawan.
BETAPA KAYA – TETAPI BERAPA KAYA INDONESIA DALAM PLASMA NUTFAH
Peran dan fungsi taksonomi sebagai perlakuan terhadap keanekaragaman hayati dapat dan perlu ditunjukkan secara gamblang. Hasilnya pun harus juga dibeberkan.
1. Dengan menerapkan asas taksonomi yang terdiri atas empat kompartemen yang saling berhubungan, akan dapat diungkapkan identitas suatu komponen. Taksonomi yang mendalami unit yang digarap dengan mengungkapkan temuannya dari pendalaman ini akan membeberkan secara lengkap (atau mendekati tingkatan lengkap) sifat dan kandungan kemampuan unit yang digarap. Indentifikasi spesies dan pertelaannya akan membuka isi unit yang digarap. Taksonomi juga meletakkan unit yang digarap pada kelompok kekerabatan yang tepat.Tindakan ini telah mencantumkan tambahan unit yang tercakup dalam suatu kelompok kekerabatan yang bersangkutan. Tindakan ini telah membuka peluang untuk meningkatkan keanekaragaman pemanfaatan suatu unit keanekaragaman hayati. Sisi lain yang dapat terungkap juga ialah persebaran unit ini dalam dimensi ruangan (spatial) dan dimensi waktu (temporal). Hal ini penting untuk diketahui, karena pengelolaan unit-unit yang bersangkutan akan memerlukan informasi mengenai persebaran ini. Penghitungan secara kuantitatif dan kualitatif pun dapat dilakukan. Hasil dari penghitungan ini akan mempunyai dampak yang luas, di antaranya untuk menentukan laju pemunahan, derajat endemisme, dan pemantauan terhadap masuknya spesies asing yang membahayakan.
2. Pemanfaatan dan pelestarian unit-unit keanekaragaman hayati dalam berbagai taraf, bawah-spesies, spesies, dan ekosistem dengan menggunakan jasa taksonomi akan terasa dalam penyadapan sifat dan kemampuan komponen keanekaragaman hayati untuk pemanfaatannya. Penerapan taksonomi dalam hal ini telah terbukti dalam berbagai bidang, misalnya pertanian untuk pemuliaan tanaman dan ternak dalam menghasilkan bibit atau varietas unggul, serta untuk mengendalikan hama dan penyakit; kesehatan dalam menentukan vektor penyakit dan agen penyakitnya sendiri; permukiman untuk menentukan lokasi yang tepat bagi kenyamanan dan keamanan penghuni atau pemukim; lingkungan untuk menentukan spesies atau unit indikator mengenai keadaan atau kualita lingkungan tertentu; dan sebagainya.
3. Dilihat dari segi peran taksonomi dalam mengklasifikasi makhluk, jarak antarspesies, antar takson yang lebih tinggi, dengan demikian hubungan horisontal dan hubungan vertikal dapat diidentifikasi. Pengetahuan tentang hubungan ini sangat penting dalam praktek, di antaranya dalam menentukan manfaat suatu unit dalam hal perannya sebagai unit pengganti unit yang telah dikenal sebelumnya. Fenomena ini dapat berlaku untuk semua taraf keanekaragaman hayati, mulai dari taraf bawah-spesies sampai taraf yang lebih tinggi. Contoh, misalnya bila di suatu kawasan terdapat komponen keanekaragaman hayati yang mempunyai khasiat untuk tujuan tertentu, padahal komponen tersebut tidak terdapat di kawasan lain, maka bila kawasan lain ini hendak mengembangkan pemanfaatan yang sama dengan yang dilakukan terhadap komponen yang telah dimanfaatkan tersebut, kerabat terdekatnya yang terdapat di kawasan lain ini dapat diteliti secara langsung. Ketentuan mengenai derajat kedekatan kekerabatannya hanya dapat ditentukan oleh taksonomi. Inilah pentingnya klasifikasi yang disusun dengan penyelenggaraan taksonomi.
4. Taraf lebih tinggi daripada spesies ialah ekosistem. Taksonomi yang langkah pertamanya ialah identifikasi spesies, akan menentukan pula identitas ekosistem. Kandungan dalam ekosistem yang berwujud spesies akan menentukan kinerja ekosistem. Fungsi, keefektifan,, dan kestabilan ekosistem tergantung pada keberadaan spesies. Secara langsung, dengan demikian, arah dan keberhasilan pengelolaan ekosistem ditentukan pula oleh penerapan taksonomi. Peran taksonomi dalam hal ini juga berkait dengan persebaran ekosistem
Peran taksonomi seperti yang dianalisis di atas itu berpotensi dalam menentukan berapa derajat keanekaragaman hayati yang terdapat di Indonesia. Bila taksonomi diterapkan secara konsekuen terhadap keanekaragaman hayati, untuk setiap kelompok yang digarap akan dapat ditunjukkan kandungannya dengan lengkap. Taksonomi dengan meneraplan asas dan tahap-tahap pelaksanaannya, mulai dari identifikasi, pendalaman mengenai kandungan unit yang diidentifikasi, pertelaannya secara lengkap, sampai penyebaran informasi mengenai unit yang digarap ini, pastilah pemanfaatannya, dan sekaligus pelestariannya dapat dirancang dengan hasil yang maksimal. Dengan penggarapan seperti ini, akan dapat diungkapkan betapa kayanya negeri kita dengan keanekaragaman hayati, yang secara rinci, jelas dan tegas akan dapat dihitung. Dengan demikian berapa kekayaan yang terkandung di dalamnya dapat diketahui tanpa keragu-raguan. Penghitungan ini sangat penting dan sangat diperlukan untuk membuktikan betapa kayanya negeri kita, dan berapa yang dapat dimanfaatkan, serta untuk menentukan cara melestarikan keanekaragaman hayati – dalam arti luas, artinya termasuk pelestarian kandungan kemampuan pada masing-masing komponennya. Pertanyaannya ialah siapa yang akan melaksanakan kegiatan taksonomi seperti yang diharapkan itu?
PERSIAPAN UNTUK MEMANFAATKAN TAKSONOMI PENYIAPAN SUMBER DAYA YANG CUKUP
Bukan hanya siapa yang akan melaksanakan penyelenggaraan taksonomi untuk menghitung keanekaragaman hayati Indonesia. Banyak segi lain yang akan terlibat dalam upaya penyelenggaraan taksonomi ini. Pertama yang harus dipikirkan ialah pengembangan pendidikan taksonomi yang akan dapat menghasilkan taksonomiwan yang sanggup menyelenggarakan taksonomi untuk tujuan pengungkapan kekayaan hayati negeri kita, sesuai kebutuhan.
Kebutuhan pendidikan ini tidak beridiri sendiri. Akan diperlukan lembaga dan tenaga pendidik serta bahan pendidikan yang memadai untuk menghasilkan taksonomiwan yang diperlukan tersebut. Dengan keadaan taksonomi seperti yang dihadapi Indonesia seperti sekarang ini, jauh sekali terpenuhinya harapan. Pendidikan taksonomi tidak terselenggara di Indonesia karena anggapan bahwa taksonomi tidak mempunyai daya guna. Anggapan bahwa taksonomi tidak berdaya guna akan menyebabkan pendidikannya tidak mendapat tanggapan yang layak. Akibatnya ialah pemahaman terhadap taksonomi menjadi tidak yang sebenarnya, sehingga taksonomi menjadi tidak berdaya guna. Lingkaran setan ini perlu diputuskan untuk dapat mengembangkan pendidikan taksonomi yang efektif.
Tantangannya ialah mengembangkan cara untuk menarik minat masyarakat, terutama mahasiswa agar bersedia menekuni taksonomi. Upaya ini akan terbentur pada kenyataan anggapan bahwa taksonomi merupakan disiplin ilmu yang bila telah ditekuni tidak memberikan peluang kerja bagi mereka yang telah menyelesaikan pendidikan taksonomi. Beberapa langkah yang mungkin dapat direncanakan sebagai strategi menjaring penuntut ilmu taksonomi dapat disusun sebagai berikut :
1. Pengembangan kebutuhan akan menginventarisasi kekayaan alam hayati yang dimiliki oleh suatu daerah. Kebutuhan ini akan berkembang bila daerah yang bersangkutan akan melaksanakan pembangunannya dengan memanfaatkan sumber daya hayati yang terdapat di kawasannya. Tanpa pengetahuan mengenai kandungan kekayaan hayatinya, daerah yang bersangkutan akan sulit untuk merencanakan pembangunan yang terarah sehingga pemanfaatan sumber daya hayatinya dan pelestariannya akan terjamin. Undang-undang No. 22, tahun 1999, tentang Pemerintahan Daerah, dan Peraturan Pemerintah No. 25, tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom mencanangkan perlunya pemanfaatan sumber daya daerah.
2. Di era globalisasi pemanfaatan sumber daya genetik dari negara lain merupakan hal yang makin lama makin marak. Untuk menghindari gejala pencurian sumber daya hayati yang akan dimanfaatkan di luar negeri, atau oleh perusahaan di dalam negeri yang memperoleh sumber daya ini secara tidak sah, telah dirancang suatu undang-undang mengenai pengelolaan sumber daya genetik, termasuk akses terhadap sumber daya ini dan pembagian keuntungannya secara adil dan merata. Terlaksanakan peraturan ini akan sangat tergantung pada pengetahuan pemilik keanekaragaman sumber daya genetik mengenai sumber daya genetik yang dimilikinya. Pengetahuan ini akan dapat diperoleh hanya dengan penyelenggaraan taksonomi. Valuasi terhadap sumber dya genetik juga akan dapat dilakukan melalui langkah taksonomi. Valuasi ini penting jika pembagian keruntungan dari pemanfaatan terhadap sumber daya genetik yang bersangkutan akan dibagi secara adil dan merata.
3. Yang tidak kalah pentingnya ialah pilihan kelompok yang akan ditangani dengan penyelenggaraan taksonomi. Pemilihan ini penting, karena terbatasnya waktu yang tersedia dan desakan kebutuhan yang tinggi. Perlu disusun kriteria yang pantas dan tepat untuk menentukan kelompok yang akan diperlakukan dengan taksonomi. Di Indonesia banyak tersedia kelompok keanekaragaman hayati yang menanti untuk ditangani. Kriteria pemilihan harus mengacu pada urutan kebutuhan terhadap kelompok komponen keanekaragaman hayati yang akan dimanfaatkan atau yang mempunyai nilai kepentingan tinggi. Penentuan kriteria ini pun memerlukan uluran tangan takonomi.
4. Perlu adanya kesatuan pandang antara pihak pendidikan (tinggi) dan pemerintah daerah untuk menyusun kurikulum pendidikan yang akan menghasilkan taksonomiwan tangguh.
SIMPULAN DAN SARAN
Suatu dilema telah dihadapi dalam memanfaatkan sumber daya genetik. Kebutuhan akan taksonomi di satu pihak dan kesalahan pemahaman terhadap taksonomi di lain pihak. Padahal kedua pihak ini, sumber daya genetik dan taksonomi, harus dalam satu ikatan yang saling memberdayagunakan. Untuk dapat mempersatukan dua pihak yang saling memerlukan, tetapi terhalang oleh kesalahpahaman, memang perlu dilakukan upaya oleh banyak pihak. Semua pemangku kepentingan, khususnya pengambil keputusan dalam pembangunan dan pengambil keputusan dalam pembuatan kurikulum pendidikan diharapkan dapat bertemu dan membahas permasalahannya secara tuntas untuk berujung pada tersedianya taksonomiwan yang cukup dalam kuantita dan kualita yang dapat menakar keanekaragaman hayati, pada semua taraf, untuk dapat dikelola secara berhasil guna dan berdaya guna. Semuanya terpulang kepada pengambil kebijakan dan kegigihan kelompok masyarakat yang peduli akan kelestarian dan pemanfaatan sumber daya hayati kita yang berinduk kepada keanekaragaman hayati. Perhatian kepada taksonomi mamang harus diberikan secara penuh dan bersungguh-sungguh, bila kehadiran keaneakragaman hayati akan dapat dikelola secara berkelanjutan.
DAFTAR BACAAN
Adisoemarto, S. (Ed.). 1998. Sumber daya alam sebagai modal dalam pembangunan berkelanjutan. LIPI.
Adisoemarto, S. 2001. Merelevankan taksonomi. Loka Karya Pengembangan Taksonomi Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup, 21 November 2001.
Adisoemarto, S. 2003. Membumikan taksonomi : mengapa dibumikan dan bagaimana membumkannya. Semiloka Membumikan Taksonomi, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 22 Maret 2003.
Adisoemarto, S. 2003. Pembelajaran taksonomi yang benar. Pencerahan Taksonomi di Hadapan Guru-guru SMU se-DKI, Universitas Indonesia, Jakarta, 27 Mei 2003.
Asimov, I. 1962. The genetic code. Signet Science Library. Published by the American Library, New York.
Christensen, C.M. 1965. The molds and man. McGraw-Hill Book Coy. New York.
Convention on Biological Diversity. Text and annexes. Glen, Switzerland
Darlington, P.J., Jr. 1957. Zoogeography : the geographical distribution of animals. John Wiley & Sons, Inc. New York.
Groombridge, B. (Ed.). 1992. Global biodiversity. Status of the earth’s living resources. Chapman & Hall. New York.
Guarino, L., V.R. Rao, and R. Reid (Eds.). 1995. Collecting plant genetic resources. Technical Guidelines. IPGRI-FAO-UNEP-IUCN-CAB International.
Mason, S.F. 1962. A history of the sciences. Collier Books. New York.
Mayr, E. 1963. Animal species and evolution. The Belknap Press. Cambrdge, Massachusetts.
Paroda, R.S. & R.K. Arora (Eds.). 1991. Plant genetic resources. Conservation and management. IBPGR- regional Office for South and southeast Asia. New Delhi.
Stuessy, T.F. 1990. Plant taxonomy. Columbia University Press. New York.
Swaminathan, M.S & S. Jana (Eds.). 1992. Biodiversity. Implications for global food security. Macmillan India Ltd. Madras.
Wilson, E.O. 1992. The biodiversity of life. Allen Lane. The Pinguin Press.

Dasar-dasar Elektronika - Resistor

Dasar-dasar Elektronika - Resistor
L I C E N C E
Judul:Dasar-dasar Elektronika - Resistor
Penulis:Komarudin Surya
Copyright:Suryatekno © 2008
Aturan:
tutorial ini boleh Anda Copy hanya untuk kepentingan Pribadi. Tidak boleh diperjual-belikan, atau dimanfaatkan untuk kepentingan Komersial. Pengutipan atau pemindahan sebagian atau keseluruhan materi ke situs ataupun Media Lain, tidak di ijinkan dengan alasan apapun tanpa seijin dari Penulis cq: Komarudin Surya.
P E N D A H U L U A N
Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak menemui suatu alat yang mengadopsi elektronika sebagai basis teknologinya contoh ; Dirumah, kita sering melihat televisi, mendengarkan lagu melalui tape atau CD, mendengarkan radio, berkomunikasi dengan telephone. Dikantor kita menggunakan komputer, mencetak dengan printer, mengirim pesan dengan faximile, berkomunikasi dengan telephone. Dipabrik kita memakai alat deteksi, mengoperasikan robot perakit, dan sebagainya. Bahkan dijalan raya kita bisa melihat lampu lalu-lintas, lampu penerangan jalan yang secara otomatis hidup bila malam tiba, atau papan reklame yang terlihat indah berkelap-kelip dan masih banyak contoh yang lainnya. Dari semua uraian diatas kita dapat membuktikan bahwa pada zaman sekarang ini kita tidak akan lepas dari perangkat yang menggunakan elektronika sebagai dasar teknologinya.
Revolusi besar-besaran terhadap elektronika terjadi sekitar tahun 1960-an, dimana saat itu mulai ditemukan suatu alat elektronika yang dinamakan Transisor, sehingga dimungkinkan untuk membuat suatu alat dengan ukuran yang kecil dimana sebelumnya alat-alat tersebut masih menggunakan tabung-tabung facum yang ukurannya besar serta mengkonsumsi listrik yang besar. Hanya dalam kurun waktu 10 tahun sejak ditemukan nya transistor, ditemukan sebuah rangkaian terintegrasi yang dikenal dengan IC ( Integrated Circuit ) merupakan sebuah rangkaian terpadu yang berisi puluhan bahkan jutaan transistor di dalamnya. Sehingga kita bisa melihat sebuah perangkat elektronika semakin kecil bentuknya tetapi semakin banyak fungsinya sebagai contoh telephone genggam ( Handphone ) yang anda pakai saat ini dengan telephone genggam yang anda pakai beberapa tahun yang lalu. Yah semua itu berkat revolusi Silikon sebagai bahan dasar pembuatan Transistor dan IC atau CHIP.
Baiklah, sampai disini saja gembar-gembor kita mengenai perkembangan elektronika. Tentunya anda sudah tidak sabar lagi ingin segera mempelajari teknologi elektronika, tapi bagi anda yang masih ingin mengetahui sejarah perkembangan elektronika anda bisa mencarinya dari berbagi sumber lain.
I.   KOMPONEN ELEKTRONIKA - RESISTOR
Resistor adalah komponen elektronika yang selalu digunakan dalam setiap rangkaian elektronika karena dia berfungsi sebagai pengatur arus listrik. Dengan resistor listrik dapat didistribusikan sesuai dengan kebutuhan. Tentunya anda bertanya-tanya, apa itu resistor ?, seperti apa bentuknya ?, bagaimana cara kerjanya ?, oops..., nanti dulu saya baru akan menjelaskannya.

Ilustrasi Arus Air untuk mengetahui cara kerja Resistor
Setelah anda perhatikan animasi tadi, tentunya anda sudah mempunyai gambaran tentang bagaimana prinsip kerja dari sebuah resistor. Yah anda anggap saja arus air yang ada di animasi itu sebagai arus listrik, sedangkan bendungan sebagai resistornya. Jadi bila bendungan 1 kita anggap sebagai resistor 1 dan bendungan 2 sebagai resistor 2, maka besarnya arus tergantung dari besar kecilnya pintu bendungan yang kita buka. Semakin besar kita membuka pintu bendungan semakin besar juga arus yang melewati bendungan tersebut bila ingin lebih besar lagi arusnya, yah tidak usah dipasang bendungannya atau dibiarkan saja, jadi bila kita menginginkan arus yang besar maka kita pasang resistor yang nilai resistansi ( tahanan ) nya kecil, mendekati nol atau sama dengan nol atau tidak dipasang sama sekali dengan demikian arus tidak lagi dibatasi. Nah seperti itulah kira-kira fungsi Resistor dalam sebuah rangkaian elektronika.
Suatu fungsi dalam dunia teknik tentunya mempunyai satuan atau besaran, misalnya untuk berat kita tahu bahwa pada umumnya satuannya adalah "gram", satuan jarak pada umumnya orang memakai satuan " meter ". Nah untuk resistor satuannya adalah OHM, jadi mulai sekarang kita biasakan untuk menyebut besarnya nilai suatu resistor atau tahanan kita gunakan satuan OHM, yang sebenarnya berasal dari kata OMEGA. Maka tidaklah heran bila lambang dari OHM berbentuk seperti tapal kuda  orang yunani menyebutnya omega entah kenapa demikian saya juga kurang paham karena saya bukan ahli sejarah he he he . Ok, jadi bila nanti anda melihat rangkaian elektronika lalu disitu tertulis misalnya 470  maka itu adalah sebuah resistor dengan nilai 470 OHM.., paham..!!.
Didalam rangkaian elektronika resistor dilambangkan dengan angka " R " , sedangkan icon nya seperti ini : . Ada beberapa jenis resistor yang ada dipasaran antara lain : Resistor Carbon, Wirewound, dan Metal Film. Ada juga Resistor yang dapat diubah-ubah nilai resistansinya antara lain : Potensiometer dan Trimpot. Selain itu ada juga Resistor yang nilai resistansinya berubah bila terkena cahaya namanya LDR ( Light Dependent Resistor ) dan Resistor yang yang nilai resistansinya berubah tergantung dari suhu disekitarnya namanya NTC ( Negative Thermal Resistance ) agar lebih jelas coba anda perhatikan gambar 1-a, dan animasi berikut ini :

Prinsip Dasar, Cara Kerja Sebuah LDR
Berbagai Jenis type dan bentuk Resistor
Berbagai Jenis type dan bentuk Resistor
PotensiometerL D RN T CTrimpot
Lambang-lambang dari beberapa Jenis Resistor
Hmmm..., bagaimana friend !. Saya rasa sampai disini anda sudah memahami prinsip kerja dari resisor. Sekarang mari kita lanjutkan dengan materi yang lain.
Untuk resistor jenis carbon maupun metalfilm biasanya digunakan kode-kode warna sebagai petunjuk besarnya nilai resistansi ( tahanan ) dari resistor. Kode-kode warna itu melambangkan angka ke-1, angka ke-2, angka perkalian dengan 10 ( multiflier ), nilai toleransi kesalahan, dan nilai qualitas dari resistor. Kode warna itu antara lain Hitam, Coklat, Merah, Orange, Kuning, Hijau, Biru, Ungu,Abu-abu, Putih, Emas dan Perak. ( lihat gambar 1-b dan tabel 1 ). Warna hitam untuk angka 0, coklat untuk angka 1, merah untuk angka 2, orange untuk angka 3, kuning untuk angka 4, hijau untuk angka 5, biru untuk angka 6, ungu untuk angka 7, abu-abu untuk angka 8, dan putih untuk angka 9. Sedangkan warna emas dan perak biasanya untuk menunjukan nilai toleransi yaitu emas nilai toleransinya 10 %, sedangkan perak nilai toleransinya 5 %.
Wah banyak sekali sulit untuk menghafalnya..!, hmmm.., kalau anda merasa kesulitan menghafal kode warna dari resistor beserta nilainya, coba perhatikan teks yang saya beri huruf tebal diatas. Kalau disatukan akan menjadi sebuah kata yang mungkin mudah bagi anda untuk menhafalnya ( Hi Co Me O Ku Hi B U A P == 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 ). Ok sekali lagi coba anda lihat gambar 1-b dan tabel 1
KODE WARNAAPPLET WARNANILAITOLERANSI
Hitam 0-----
Coklat 1-----
Merah 2-----
Orange 3-----
Kuning 4-----
Hijau 5-----
Biru 6-----
Ungu 7-----
Abu-abu 8-----
Putih 9-----
Emas 0,110 %
Perak 0,011 %
Nah sekarang mari kita mencoba membaca nilai suatu resistor. Misalkan anda melihat sebuah resistor dengan kode warna sebagai berikut : Coklat, merah, merah, dan emas. Berapa nilai resistansi dari resistor tersebut..?. ( Perlu diingat..! : Untuk membaca angka pertama dari kode warna resistor anda harus melihat warna yang paling dekat dengan ujung sebuah resistor dan biasanya untuk angka ke-1,2 dan 3 saling berdekatan sedangkan untuk kode warna dari toleransi agak jauh dari warna-warna yang lain, sekali lagi lihat gambar 1-b dan tabel 1
Untuk membaca kode warna resistor seperti yang dipermasalahkan diatas, kita mulai menerjemahkan satu persatu kode tersebut. Warna pertama Coklat, berarti angka 1, warna kedua warna merah, berarti angka 2, warna ketiga warna merah berarti multiflier, perkalian dengan 10 pangkat 2. kalau diterjemahkan 12 X 10 2 = 12 X 100 = 1200. Berarti 1200 Ohm. dengan nilai toleransi sebesar 10 %. Akurasi dari resistor tersebut berarti 1200 X ( 10 : 100 ) = 1200 X ( 1 : 10 ) = 120. ( he he he, itulah ilmu exacta selalu berhubungan dengan matematika yupsss, padahal saya juga pusing nih ngitung-ngitung yang ginian, ha ha ha.. selingan aja ) jadi nilai sebenarnya dari resistor tersebut adalah maximum 1200 + 120 = 1320 Ohm, sedangkan nilai minimum nya adalah 1200 - 120 = 1080 Ohm. Kenapa demikian ...?. Karena karakteristik dari bahan baku resistor tidak sama, walaupun pabrik sudah mengusahakan agar dapat menjadi standart tetapi apa daya prosesnya menjadi tidak standart. Untuk itulah pabrik menyantumkan nilai toleransi dari sebuah resistor agar para designer dapat memperkirakan seberapa besar faktor x yang harus mereka fikirkan agar menghasilkan yang mereka kehendaki.
Sekarang coba saya kasih soal lalu anda cari nilai nya sendiri, ( buat PR . he he he..., kayak anak SD aja ). Soalnya begini : Didalam sebuah rangkaian saya melihat sebuah resistor jenis carbon dengan warna-warna sebagai berikut ; Merah, Kuning, Hijau dan Perak. Berapa nilai minimum dari resistor tersebut ?.
Di dalam praktek para designer sering kali membutuhkan sebuah resistor dengan nilai tertentu. Akan tetapi nilai resistor tersebut tidak ada di toko penjual, bahkan pabrik sendiri tidak memproduksinya. Lalu bagaimana solusinya..?. Nah...!, seperti yang pernah saya singgung diatas bahwa ilmu exacta selalu berhubungan dengan matematika, maka untuk mendapatkan suatu nilai resistor dengan resistansi yang unik dapat dilakukan dua cara ; Pertama cara SERIAL, dan yang kedua cara PARALEL. ( Wah.., nambah pusing lagi nih..! ). Dengan cara demikian maka masalah designer diatas dapat terpecahkan. Bagaimana cara Serial dan bagaimana pula cara Paralel, untuk lebih jelasnya coba anda perhatikan gambar 1-d.


Cara memasang Resistor cara Serial dan Paralel
Dengan Cara tersebut suatu nilai resistor dapat menjadi unik. Lalu bagaimana menghitungnya ?, Ehmm. mudah saja, untuk cara serial anda tinggal menambahkan saja nilai resistor 1 dan nilai resistor 2. ( R1 + R2 ) . Sedangkan untuk cara paralel anda dituntut untuk mengerti ALJABAR ( wah-wah lagi-lagi matematika ) tapi mudah kok. Kalau ingin mahir Matematika buka saja topik yang membahas khusus tentang matematika di situs ini juga. Ok kembali ke permasalahan. Untuk cara paralel ditentukan rumus sebagai berikut : misalkan kita memparalel dua buah resistor, resistor pertama diberi nama R1 dan resistor kedua diberi nama R2, maka rumusnya adalah : 1/R= ( 1/R1 ) + ( 1/R2 )
Contoh : Kita mempunyai dua buah resistor dengan nilai berikut R1=1000 Ohm , R2=2000 Ohm, bila kita menggunakan cara serial maka didapat hasil R1+R2 1000+2000 = 3000 Ohm, sedangkan bila kita menggunakan cara Paralel maka didapat hasil :
1 / R = 1 / R1 + 1 / R2
       1 / R = (1/1000) + (1/2000)
       1 / R = (2000 + 1000) / (1000 X 2000) 
       1 / R = (3000) / (2000000)
       1 / R = 3 / 2000
          3R = 2000
           R = 2000 / 3
           R = 666,7 Ohm -----> Resistor Hasil Paralel.
silahkan buktikan sendiri dengan persamaan aljabar dalam matematika.